Filsafat Idealisme
- Pendahuluan
Dalam perkembangan pemikiran kefilsafatan, antara satu ahli
filsafat dengan filsafat lainnya selalu berbeda. Pengertian filsafat dibedakan
menjadi 2 macam, secara etimologi dan terminologi[1].
- Filsafat secara Etimologi
Filsafat berasal dari bahasa Arab falsafah dan dalam bahasa Inggris philosophy
yang diambil dari bahasa Yunani philosophia
terdiri atas kata philein yang berarti cinta dan sophia
yang berarti kebijaksanaan. Secara etimologi filsafat berarti love of wisdom[2]
yang berarti cinta kebijaksanaan.
Filsafat pertama kali digunakan oleh Phytagoras (582-496SM ). Lalu
pengertian filsafat diperjelas dan juga digunakan oleh Socrates ( 470-399 SM ).
- Filsafat secara Terminologi
Secara terminologi adalah arti yang dikandung oleh istilah
filsafat. Dikarenakan batasan dari filsafat itu banyak maka sebagai gambaran
perlu diperkenalkan beberapa batasan.
- W. P Montague
Philosophy is a attempt to give a reasoned conception of the
universe and of man’s place in it[3].
- J. A Leighton
A complete philosophy includes a world-view, or reasoned conception
of the whole cosmos, and a life-view, or doctrine of the values, meanings, and
purposesnof human life[4].
- E. S. Ames
The endeavor the achieve a comprehensive view of life and its
meaning, upon the basis of the result of the various sciences[5].
Filsafat adalah[6] :
- Attitude toward life and the universe.
- Method of reflective thinking and resoned
inquiry.
- Group of problems.
- Group of theories or system of thought.
Dapat disimpulkan dari berbagai pengertian diatas, filsafat adalah
kegiatan atau usaha manusia dalam mengatasi problema-problema kehidupan,
seperti memberikan pertimbangan apa saja yang harus dilakukan. Filsafat adalah
berpikir tetapi tidak semua berpikir adalah berfilsafat.
Filsafat mempunyai beberapa objek yang merupakan bahan dari suatu
penelitian atau pembentukan pengetahuan, objek filsafat dibedakan menjadi 2,
yaitu objek material dan objek formal[7].
- Objek Material
Objek material adalah suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian
atau pembentukan pengetahuan itu , hal yang diselidiki, dipandang, atau
disorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek material mencakup apa saja baik hal
konkret atau abstrak.
- Objek Formal
Objek formal adalah suatu sudut pandang yang ditujukan pada bahan
penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut darimana objek material
itu disorot.
Pemikiran kefilsafatan menurut Suyadi M.P mempunyai karakteristik
sendiri, yaitu menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Menurut Sunato filsafat
mempunyai ciri-ciri yaitu, deskriptif, kritis/analitis, evaluatif,
spekulatif ,dan sistematik[8].
Menurut Hendreson Philosophy means one’s general view of life of
men, of ideals and of values, in this sense every one has a philosophy of life[9].
Sedangkan menurut Immanuel Kant Metaphysik ist, wenn gleich nich
als wissenschaft, doch als naturanlage wircklich und so ist wirchlich in allen
menschen irgend eine metaphysic zu aller Zeit gewesen und wird auch immer darin
bleiben ( Kritik Der Reinen Vermunft )[10].
Sistem filsafat dibagi menjadi empat yaitu, Filsafat Idealisme,
Filsafat Pragmatisme, Filsafat Progesivisme, dan Filsafat Perenialisme. Dalam
makalah ini saya akan membahas lebih detail tentang Filsafat Idealisme.
- Pembahasan
- Pengertian Filsafat Idealisme
Filsafat idealisme adalah filsafat yang membahas hal-hal yang
berkaitan dengan pemikiran atau ide sebagai sumber pengetahuannya. Idealism
adalah suatu pandangan atau metafisik
yang mengatakan bahwa realita dasar sangat erat hubungannya dengan ide, fikiran
atau jiwa. Secara umum filsafat Idealisme berarti :
- Seseorang yang menerima dan menghayati
ukuran moral yang tinggi, estetika serta agama.
- Orang yang dapat melukiskan atau
menganjurkan suatu rencana atau program yang belum ada.
Menurut pandangan Professor W. E. Hocking Idealism, in brief,
asserts that reality is closely related to ideas, thought, mind or selves
rather than material forces[11].
Pandangan-pandangan umum yang dsepakati oleh para filsuf idealisme,
yaitu :
a.
Jiwa manusia
adalah unsur paling penting dalam hidup.
b.
Hakikat akhir
alam semesta pada dasarnya adalah nonmaterial.
Sejarah Filsafat Idealisme sangat berbelit-belit karena pengetian
idealisme sangatlah luas untuk bermacam-macam teori yang saling berkaitan.
Filsafat ini mempunyai beberapa pengelompokan mengenai idealism tetapi tidak
ada yang memuaskan karena banyaknya perbedaan antara ahli filsuf.
Prinsip idealisme adalah kesatuan organik. Kaum idealis condong
menekankan pada teori koherensi atau konsistensi dari percobaan kebenaran yakni
suatu putusan dipandang benar jika ia sesuai dengan putusan-putusan lain yang
telah diterima sebagai yang benar.
Menurut pendapat Hegel, Schelling, dan Schopenhauer,
Idealisme dibedakan menjadi, subjective idealism, objective idealism, and
personalist or personal idealism[12].
- Idealism Subjektif
Idealisme sering disebut mentalism atau phenomenalism[13].
Idealism ini dipopulerkan oleh George Barkeley pada tahun1685-1753. Kaum
idealis subyektif mengatakan bahwa tak mungkin ada benda atau persepsi tanpa
seorang yang mengetahui benda atau persepsi tersebut, subyek seakan-akan
menciptakan obyeknya bahwa apa yang riil itu adalah akal yang sadar atau
persepsi yang dilakukan oleh akal tersebut. Mengatakan bahwa suatu benda ada
berarti mengatakan bahwa benda itu dipersepsikan oleh akal.
- Idealisme Objektif
Banyak filosof idealisme, dari Plato melalui Hegel sampai filsafat
masa kini menolak idealism subjektisme atau
mentalisme dan menolak juga pandangan bahwa dunia luar itu buatan manusia. Mereka berpendapat
bahwa peraturan, bentuk dunia, dan pengetahuan ditentukan oleh watak dunia
sendiri.
Filsuf idealis yang pertama kali dikenal adalah Plato, dia membagi
menjadi dua bagian, yaitu :
a.
Dunia persepsi,
dunia penglihatan dan suara dan benda-benda individual.
b.
Terdapat alam
diatas benda, yaitu alam konsep, idea, universal atau esensi yang abadi.
- Personalisme atau Idealis Personal
Pesonalisme muncul sebagai protes terhadap matrealisme mekanik dan
idealism monistik. Kelompok personalis berpendapat bahwa perkembangan terakhir
dalam sains modern, termasuk didalamnya formulasi teori realitas dan pengakuan
yang selalu bertambah terhadap tempat berpijaknya si pengamat telah memperkuat
sikap mereka.
Realitas
adalah suatu system jiwa personal, oleh karena itu realitas bersifat
pluralistik. Kelompok personalis
menekankan realitas dan harga diridari orang-orang, nilai moral dan kemerdekaan
manusia. Bagi kelompok personalis alam adalah tertib yang obyektif walaupun
begitu alam tidak berada sendiri. Personalisme bersifat theistic[1].
Ia memberi dasar metafisik kepada agama dan etika.- Konsep Filsafat Umum Ideologis
a.
Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas
realitas secara menyeluruh.
1.
Hakikat
Realitas
Para filsuf idealis berpendapat hakikat realitas bersifat spiritual
atau ideal. Bagi penganut idealisme, realitas diturunkan dari suatu substansi fundamental,
adapun substansi fundamental itu sifatnya nonmaterial, yaitu pikiran, spirit
atau roh. Benda-benda yang bersifat material yang tampak nyata, sesungguhnya
diturunkan dari pikiran, jiwa atau roh.
2.
Hakikat Manusia
Hakikat manusia bersifat spiritual atau kajiwaan. . Menurut Plato,
setiap manusia memiliki tiga bagian jiwa, yaitu nous, thumos dan epithumia.
b.
Epistemotologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas
tentang hakikat pengetahuan. Menurut filsuf idealisme, proses mengetahui
terjadi dalam pikiran, manusia memperoleh pengetahuan melalui berfikir dan
intuisi gerak hati.
c.
Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas
tentang hakikat nilai. Para filsuf idealisme sepakat bahwa nilai-nilai bersifat
abadi. Menurut penganut Idealime Theistik nilai-nilai abadi berada pada
Tuhan. Penganut Idealisme Pantheistik mengidentikan Tuhan dengan
alam.
3.
Pandangan
Filsuf tentang Idealisme
a.
Realitas
Filsafat idealisme
memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik.
Parmenides, filosof dari Elea Yunani Purba, berkata, ”apa yang tidak dapat
dipikikan adalah nyata”. Plato, seorang filosof idealisme klasik Yunani Purba, menyatakan bahwa realitas
terakhir adalah dunia cita. Hakikat manusia adalah jiwanya, rohaninya, yakni
apa yang mind. Mind merupakan suatu wujud yang mampu menyadari dunianya,
bahkan sebagai pendorong dan penggerak semua tingkah laku manusia. mind
merupakan faktor utama yang menggerakkan semua aktivitas manusia, badan atau
jasmani tanpa jiwa tidak memiliki apa-apa.
b.
Pengetahuan
Tentang teori pengetahuan,
idealisme mengemukakan pandangannya bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui
indera tidak pasti dan tidak lengkap, karena dunia hanyalah merupakan tiruan
belaka, sifatnya maya atau bayangan, yang menyimpang dari kenyataan yang
sebenarnya, pengetahuan yang benar hanya merupakan hasil akal belaka, karena
akal dapat membedakan bentuk spritual murni dari benda-benda di luar penjelmaan
materi.
Hagel menguraikan konsep
Plato tentang teori pengetahuan dengan mengatakan bahwa pengetahuan dikatakan
valid, sepanjang sistematis, maka pengetahuan manusia tentang realitas adalah
benar dalam arti sismatis. Dalam teori pengetahuan dan kebenaran, idealisme
merujuk pada rasionalisme dan teori koherensi seperti yang telah disinggung
pada bab sebelumnya.
Dalam hal ini Henderson (1959:215)
mengemukakan bahwa :
Rasionalisme mendasari teori
pengetahuan idealisme, mengemukakan bahwa indra kita hanya memberikan materi mentah
bagi pengetahuan.
Pengetahuan tidak ditemukan
dari pengalaman indera, melainkan dari konsepsi, dalam prinsip-prinsip sebagai
hasil aktvitas jiwa.
c.
.Nilai
Menurut pandangan idealisme,
nilai ini absolut.Apa yang dikatakan baik,benar, salah, cantik, atau tidak
cantik, secara fundemental tidak berubah dari generasi ke generasi.Pada
hakikatnya nilai itu tetap.Nilai tidak diciptakan manusia melainkan merupakan
bagian dari alam semesta.
Menurut Kant, Henderson mengemukakan, Every human bing looU upon
himself as an end, that is, of value in and of Kim self .He in not, in Kioe own
eyes, valuable only as a means to sometKing; else. He has value, infinite
value, as human being[1] . Imperative
kategoris dan imperative praktis merupakan perlakuan dan pembuatan kemanusiaan,
baik mengenai diri sendiri maupun orang lain.
Pandanglah manusia sebagai
tujuan, bukan sebagai alat semata.Setiap manusia memandang dirinya sebagai
tujuan, sebagai nilai yang datang dan berada dalam dirinya sendiri.Ia, menurut
pandangannya sendiri, tidak dapat dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan
orang lain.Manusiamemiliki nilai dan harkat kemanusiaan yang tidak terbatas
sebagai mahkluk manusia.
d.
Pendidikan
Selanjutnya,menurut Horne,
pendidikan merupakan proses abadi dari proses penyesuaian dari perkembangan
mental maupun fisik, bebas, dan sadar terhadap Tuhan, dimanipestasikan dalam
lingkungan Intelektual, emosional dan berkemauan. Pendidikan merupakan pertumbuhan
ke arah tujuan, yaitu pribadi manusia yang ideal.Mengenai teori pengetahuan,
intelek atau akal memegang peran yang sangat penting dan menetukan dalam proses
belajar mengajar.
Mereka yakin bahwa akal manusia dapat memproleh pengetahuan dan
kebenaran sejati. Jadi, pengetahuan yang diajarkan disekolah harus besifat
intelektual. Filsafat, logika bahasa, dan matematika akan memperoleh porsi yang
besar dalam kurikulum sekolah. Inilah konsep pendidikan yang bedasarkan
pandangan idalisme.
Power (1982-89) mengemukakan implikasi filsafat pendidikan
idealisme sebagai berikut:
1.
Tujuan Pendidikan
Pendidikan formal dan informal bertujuan membentuk karakter,
dan mengembangkan bakat atau
kemampuan dasar, serta kebaikan sosial.
2.
Kedudukan Siswa
Bebas untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan
dasarnya/bakatnya.
3.
Peran Guru
Bekerja sama dengan alam dalam proses pengembangan manusia,
terutama bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan siswa.
4.
Kurikulum
Pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan rasional, dan
pendidikan praktis untuk memperoleh
pekerjaan.
5.
Metode
Diutamakan metode dialetik, tetapi metode lain yang efektif dapat
di manfaatkan.
4.
Prinsip-prinsip
Idealisme
a.
Idealisme
percaya dalam dua bentuk yaitu, bentuk dunia rohani dan dunia material. Idealime berpendaapat lebih
penting dunia rohani daripada dunia material. Mereka percaya dunia rohani nyata
sedangkan dunia material hanyalah fana.
b.
Ide-ide yang
lebih penting daripada objek idealis. Pengetahuan tentang pikiran dan jiwa
hanya dapat diperoleh dari ide.
c.
Manusia lebih
penting dari bahan alam.
d.
Iman dalam
nilai-nilai yang rohani menurut idealis, tujuan utama dalam hidup untuk
mencapai nilai-nilai kebenaran spiritual, kebaikan dan kebenaran.
e.
Pentingnya
pengembangan kepribadian idealis memberikan banyak kepentingan untuk individu.
f.
Penuh dukungan
untuk prinsip kesatuan dalam keragaman.
- Penutup
Filsafat Idealisme adalah aliran filsafat yang menekankan ide sebagai objek pengertian dan sumber
pengetahuannya. Filsafat adalah kegiatan atau usaha manusia untuk mencapai
kebijakan dan kearifan. Berfilsafat adalah berpikir tetapi tidak semua berpikir
adalah berfilsafat.
Sisitem filsafat dibedakan menjadi empat yaitu, Filsafat Idealisme,
Filsafat Prgamatisme, Filsafat Peogesivisme, Filsafat Perenialisme. Dengan
berfilsafat membiasakan diri kita berpikir kritis dan relektif terhadap
problema-problema didalam kehidupan manusia. Memberikan pengertian akan
problema-problema esensial dan pertimbangan apa yang harus kita lakukan.
Semoga makalah ini dapat memberi pengertian kepada para pembaca ,
Apa yang dimaksud dengan Filsafat Idealisme? .
- Daftar Pusaka
Drs.
Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar
Drs.
Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat
Living
Issues in Philosophy, Third Edition
Filsafat
Idealisme dan Realisme
Question
that Matter An Invitation to Philosophy, fifth edition
[1] Filsafat
Idealisme dan Realisme, Bab 3
[1]
Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Bab 1, hal 1.
[2]
Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar , Bab 1, hal 1.
[3] Living
Issues in Philosophy, Third Edition, Bab 1, hal 10.
[4] Living
Issues in Philosophy, Thir Edition, Bab 1 hal 10.
[5] Living
Issues in Philosophy, Third Edition, Bab 1, hal 10.
[6] Living
Issues in Philosophy, Third Edition, Bab 1, hal 9.
[7] Dr.
Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar , Bab 1 hal 5.
[8]
Dr. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar , Bab 1 hal 13.
[9] Drs.
Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat.
[10] Drs.
Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, hal 2
[11] Living
Issues in Philosophy, Third Edition, Bab 15 hal 226
[12] Living Issues
in Philosophy, Third Edition, Bab 15 hal 228


Komentar